Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: “aku turut bahagia untukmu.”

| Jumat, 25 Juni 2010
        Suatu saat seorang laki-laki pernah bilang pada kekasihnya ” Kamu harus selalu doain hubungan kita agar selalu langgeng dan kita dipersatukan”. Tapi si gadis berkata ” Aku tidak pernah mendoakan hubungan kita agar kita dipersatukan tetapi aku selalu berdoa ” Tuhan Engkau berikan kebahagiaan buat kami berdua,berikan kami jodoh yang dapat membahagiankan kami. Apabila suatu saat dia menikah semoga dia bahagia meskipun tidak bersamaku,karna kebahagiaan dia adalah kebahagiaanku juga,begitu juga sebaliknya”.

Kalimat tersebut membuat kekasihnya terharu, dia tidak menyangka berkata demikian. Betapa kagumnya dan seberapa besar pengorbanan cinta yang di berikan kepadanya.

” Aku selalu menghargaimu,bahkan jika kamu tidak memilih aku, aku juga turut bahagia jika kamu bahagia bersama pilihannmu, karna kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Cinta hanya sebatas kata tapi makna yang terkandung didalamnya banyak orang yang tidak mengerti. Ada sebuah cerita begini,
Suatu saat burung jatuh cinta kepada mawar putih, burung pun berusaha mengungkapkan perasaaannya, tetapi mawar putih berkata,’ aku tidak akan pernah bisa mencintaimu’. Burung tak pernah menyerah, setiap hari dia datang untuk bertemu mawar putih. Akhrirya mawar putih pun berkata, aku mencintaimu jika kamu dapat merubah aku jadi mawar merah. Dan suatu hari burung pun datang kembali, ia memotong sayapnya dan meyebarkan darahnya pada mawar putih hingga berubah jadi mawar merah. Akhirnya mawar pun sadar seberapa besar perjuangan burung untuk mencintainya, tapi semua sudah terlambat karna burung tak akan kembali lagi kedunia dan mengepakkan sayapnya saat mawar merasa kepanasan. Burungpun menghilang untuk selamanya. Maka hargailah siapa pun yang mencintaimu sebelum dia pergi meninggalkanmu, seperti diriku mencintaimu’. Tutur kata tersebut membuat laki-laki semakin terharu.

Si Gadis tidak pernah berhenti bercerita, dia juga bercerita,

” Seorang laki-laki ingin mendaki gunung bersama teman-teman sekantornya ke suatu daerah yang begitu dingin dan tinggi. Si gadis minta bunga Sejati atau abadi atau Edelweis. (Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.) Konon katanya bunga itu tumbuh di daerah cuaca yang sangat dingin. hanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung yang tinggi sehingga untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang amat berat. Ditambah lagi dengan adanya larangan membawa pulang bunga ini. ‘Pokoknya kamu harus bawain bunga itu buat aku, baru ku kasih ijin mendaki’, maka si laki-laki pun menyetujui permintaanya. Singkat cerita setelah sampai diatas gunung dia teringat bunga tersebut, dia mencari kemana-mana tetapi tak kunjung dapat, disaat dia putuskan untuk berhenti mencari, akhirnya dari kejauhan terlihat bunga tersebut, tetapi tempatnya sangat terjal, hati kecilnya berkata itu pasti tidak bisa diambil, tetapi demi kekasihnya dengan segala usaha dia berusaha mengambilnya. Kenyataan tidak berkata demikian, sambil memikirkan kekasihnya marah kalau tidak membawakan bunga, batu yang di injaknya pun tiba-tiba jatuh bersama dirinya dan setangkai bunga di genggamannya. Maka jangan pernah memaksakan cinta, cinta tidak boleh dipaksa berdasarkan kehendak seseorang, tidak boleh arogan, tidak ada yang ditakutkan atau saling segan, dasarnya adalah kejujuran keterbukaan. ”

Sambil meneteskan air mata perempuan berkata ” Aku bahagia bersamamu, aku juga bahagia jika tidak bersamamu asal kamu bahagia bersama jodohmu, pun juga jika suatu saat aku demikian. karna kamu adalah malaikat baikku yang di turunkan Tuhan untuk merubah sifat dan tingkah lakuku,rasa angkuh,egois,dan apapun itu yang kamu dengar dari orang. Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: ’aku turut bahagia untukmu.’
Terima Kasih Cinta. ” Si gadis pun mengakhiri ceritanya

“ Cinta hampir selalu dicampuri oleh rasa ingin memiliki, bahkan menguasai. Padahal, sebuah hubungan yang sehat, apapun bentuk dan tingkat kedalamannya, seperti ibarat menggenggam pasir. Jika pasir itu digenggam dengan tangan terbuka, setiap butirannya akan bertahan di telapak tangan. Begitu kita menggenggamnya kuat-kuat, justru karena tak ingin kehilangan sebutir pun, butir demi butir akan “melarikan diri” dari sela jemarimu. Sementara butiran yang terjebak tak bisa meloloskan diri, mulai menebar perih di telapak tanganmu, dan pada akhirnya, tak pilihan lain kecuali melepasnya juga. ”

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲