Selingkuh, Mata Pria dan Wanita

| Jumat, 08 April 2011
BANYAK yang mengatakan, wanita lebih merasa sakit jika pasangannya selingkuh secara emosional daripada seksual. Sementara pria lebih tersakiti jika pasangannya selingkuh secara seksual daripada emosional. Benarkah dua perbedaan itu? Penelitian Dr Christine berusaha mencari kebenarannya.
Berawal dari serangkaian artikel yang dikeluarkan secara seri dalam Journal of Personality and Social Psychology yang menunjukkan berbagai reaksi terhadap perselingkuhan pria dan wanita, yang menunjukkan persamaan daripada yang diperkirakan orang sebelumnya. Untuk memperoleh bukti, peneliti dari Universitas California, Dr. Christine R. Harris menguji dan mengobservasi sekitar 200 pria dan wanita. Didapatkan hasil bahwa umumnya pria lebih mempedulikan perselingkuhan seksual, karena mereka tidak menginginkan pasangannya membesarkan anak dari pria lain.
Di lain pihak, para wanita justru menginginkan kehadiran pasangannya untuk ikut andil dalam membesarkan anak, sehingga mereka cenderung peduli pada perselingkuhan yang bersifat emosional. Teori ini menyatakan bahwa kedua jenis seks mengembangkan reaksi sebagian dari evolusi.
Dr. Christine melakukan serangkaian studi perbandingan untuk mengamati reaksi fisik pria dan wanita yang membayangkan skenario tentang perselingkuhan secara seksual maupun emosional. Pada studi pertama, sekitar 43 wanita dan 35 pria diukur tekanan darah dan denyut nadinya, dan didapatkan perubahan yang lebih besar ketika mereka membayangkan ketidaksetiaan seksual. Sama dengan wanita yang mengeluarkan reaksi yang sama terhadap kedua jenis perselingkuhan dan cenderung lebih tipis pada ketidaksetiaan seksual.
Pria lebih menyesalkan perselingkuhan seksual daripada emosional, hal ini berarti mereka dipastikan akan marah akan segala skenario perselingkuhan. Setelah skenario ditambah dengan bayangan seks dan jatuh cinta, lagi-lagi pria mengeluarkan lebih banyak reaksi terhadap ketidaksetiaan seksual. Ternyata membayangkan aktivitas seksual lebih merangsang mereka ketimbang membayangkan aktivitas emosional, tanpa melihat yang mereka bayangkan - apakah itu pasangannya atau orang lain.
Selain itu, mereka dimintai untuk mengisi kuesioner tentang jenis perselingkuhan mana yang lebih mengganggu. Sekitar 80% wanita mengatakan bahwa perselingkuhan emosi lebih mengganggu mereka, terbukti dari kondisi fisik mereka sama dengan dua kondisi perselingkuhan.
Kemudian Dr. Christine juga mengamati sejumlah wanita yang dalam kenyataannya sedang menjalin hubungan asmara dengan seseorang untuk membandingkan responnya dengan wanita yang melajang. Hasilnya, ditemukan suatu kenyataan bahwa wanita menunjukkan reaksi yang lebih hebat terhadap perselingkuhan emosional. Tetapi kenyataan lain menunjukkan bahwa wanita yang mempunyai pengalaman menjalin hubungan asmara ternyata lebih bereaksi terhadap skenario perselingkuhan seksual ketimbang yang emosional.
Di lain pihak, bukti fisiologis yang didapatkan dari teori evolusioner ternyata membuahkan hasil yang lemah. Karena pria ternyata menunjukkan reaksi sesuai dengan teori tersebut, hanya saja mereka bereaksi lebih kuat terhadap bayangan seksual secara umum.
Jadi, dari sini kita mendapatkan kesimpulan bahwa reaksi wanita tentang perselingkuhan tidak sama dengan pria. Namun reaksi wanita yang telah melakukan hubungan seksual cenderung menunjukkan pola reaksi yang sama dengan pria, yaitu lebih menyesalkan perselingkuhan secara seksual daripada perselingkuhan secara emosional.
Bagaimana dengan Anda?

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲